Komunitas Millenial Peduli Indonesia Cangkru’an Bersama Ning Ceria
Surabaya-Metrosoerya.netKomunitas Millenial Peduli Indonesia, atau disingkat Kompi, untuk kesekian kali mengadakan cangkrukan sore-sore. Komunitas yang dikomando oleh Nicodemus Raphonde ini memang cukup berperan dalam pencarian figur pengganti Tri Rismaharini seperti yang diharapkan oleh masyarakat Surabaya.
Mahendra, wakil ketua Kompi yang pada diskusi 21 agustus kemarin didapuk sebagai moderator, mengklaim bahwa Kompi memiliki jaringan 1500 kaum millenial.
Pada kesempatan cangkrukan bertema Generasi Millenial Bermodal Sosial tersebut, Kompi mendapuk Lia Istifhama (Ning Ceria) dan Pieter J Manoppo (aktivis dan ahli bedah) sebagai narasumber.
Lia memulai pemaparannya dengan membahas pentingnya modal dan kepekaan sosial.
“Bullying, cacian haters di sosial media, pertikaian hanya karena berita hoax ataupun sikap hyperbola, merupakan alasan mengapa modal sosial, kepekaan dan kepedulian sesama manusia, penting kita perhatikan. mungkin kita sekarang masih enjoy saja karena tidak ada satupun dari kita yang mengalami situasi, perlakuan sosial yang tidak nyaman. Tapi bukan berarti kita tidak memiliki kesempatan tersebut. Kita, keluarga kita, generasi anak cucu kita, tidak bisa terjamin dari perlakuan yang tidak baik dari orang lain. Maka dari itu, penting bagi kita menjaga kepekaan sosial, solidaritas, dan menjaga tenggang rasa sesama manusia. Nedha nerima istilahnya”, ujar dosen perempuan tersebut, yang kemudian mengulas modal sosial secara teoretis. Lia mengkaji modal sosial dalam perspektif beberapa tokoh, seperti Ibnu Khaldun, Pierre Bourdieu, Robert Putnam, dan Fukuyama.
Narasumber Pieter J Manoppo mengkaitkan pentingnya modal sosial yang dibentuk dari upaya seseorang memelihara kesehatannya.
“Menjaga kesehatan fisik sama halnya kita menjaga psikis kita untuk terus berpikir positif”. Ahli bedah tersebut juga mengingatkan pentingnya peran diri kita masing-masing untuk menjadi role model yang baik untuk orang lain, terutama generasi mendatang.
Lia sendiri, di akhir diskusi menjelaskan bahwa dirinya ingin persoalan kepekaan sosial menjadi hal yang penting untuk dimiliki banyak orang.
Menurut Sudarmanto yang akrab di panggil Gus Dar Ketua Suroboyo Ceria menuturkan ” Generasi milenial sebagai kekuatan politik yang sangat berbeda dari kelompok politik yang lainnya, karena generasi milenial sangat dekat dengan digitalisasi dan media sosial yang tanpa disadari memahami adanya keuntungan perkembangan
teknologi terhadap demokrasi, sehingga kita sangat berterima kasih terhadap generasi milenial yang telah memberikan dukungannya sehingga diharapkan dapat mendongkrak ekektabilitas Ning Ceria Lia Istifhama untuk maju sebagai Cawali Kota Surabaya 2020 tahun depan”, tuturnya.
“Eker itu elek, akur itu apik. Jadi kita semua semoga tidak mudah eker-ekeran. Baper boleh tapi mangkel gak boleh. Kita mungkin gampang ngerasani orang kalau lagi mangkel. Tapi setelahnya harus evaluasi diri. Bahwa ternyata sikap mudah marah itu tidak baik. Kita harus lihat situasi orang lain ketika kita tak sengaja berselisih paham. Jangan asal marah terus mikir jelek terhadap orang lain karena kita akan malu kalau ternyata kita yang salah menilai. Jadilah cermin yang berusaha membangun sikap obyektif ketika berinteraksi sosial. Dan yang paling penting, belajar ikhlas, belajar sabar. Kata orang Suroboyo, meski dimangkelin wong liyo, gak usah kesusu melu mangkel”, ujar aktivis perempuan tersebut.(Red)

