Diduga Tinggal Dua Ekor, Bantuan Sapi di Desa Karang Duwek Tuai Sorotan

BANGKALAN – Polemik penyaluran bantuan sapi di Desa Karang Duwek, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, mencuat ke permukaan. Informasi yang diterima redaksi Metrosoeryanews.net menyebutkan bahwa dari total bantuan sapi yang disalurkan, kini hanya tersisa dua ekor di desa tersebut. Keberadaan sapi lainnya hingga kini tidak diketahui secara pasti.
Kondisi tersebut memicu tanda tanya besar di kalangan masyarakat setempat. Warga mempertanyakan transparansi dan mekanisme pengelolaan bantuan yang sejatinya diperuntukkan bagi peningkatan kesejahteraan peternak desa.
“Setahu kami, bantuan itu tidak hanya dua ekor. Tapi sekarang yang ada dan bisa dilihat warga cuma dua. Yang lain tidak jelas keberadaannya,” ujar seorang warga Karang Duwek kepada Metrosoeryanews.net, seraya meminta namanya dirahasiakan.
Tak hanya soal jumlah sapi yang tersisa, persoalan lain yang turut mencuat adalah adanya dugaan penarikan biaya atau penebusan dalam proses realisasi bantuan.
Menurut sumber tersebut, penerima bantuan disebut-sebut diminta membayar uang hingga jutaan rupiah agar sapi bantuan bisa diterima.
“Katanya ini bantuan, tapi kok masih harus nebus sampai jutaan. Kalau memang bantuan, seharusnya gratis dan jelas aturannya,” ujarnya dengan nada heran.
Menyikapi polemik bantuan sapi yang mencuat di Desa Karang Duwek, Kecamatan Arosbaya, Kepala Desa Karang Duwek, Heru, akhirnya angkat bicara.
Heru menegaskan bahwa bantuan sapi tersebut merupakan aspirasi dari salah satu anggota DPRD, Agus. Ia mengaku telah menyampaikan secara langsung kepada ketua kelompok tani (Poktan) agar dalam realisasinya tidak ada pungutan atau penebusan kepada penerima manfaat.
“Bantuan itu aspirasi dari Pak Agus DPRD. Saya sudah sampaikan ke ketua Poktannya agar jangan sampai ada tebusan,” ujar Heru saat dikonfirmasi. Kamis (12/02/2026)
Terkait informasi yang kami dapat dari masyarakat,bahwa jumlah sapi yang kini tersisa hanya dua ekor, Heru membenarkan bahwa dua sapi memang berada di kandang ketua Poktan. Namun, untuk keberadaan sapi lainnya, ia meminta agar konfirmasi langsung kepada pihak kelompok tani yang mengelola bantuan tersebut.
“Kalau soal jumlah sapi, memang di kandang ketua Poktannya ada dua ekor. Untuk sisanya, alangkah lebih jelasnya sampean konfirmasi saja ke ketua Poktannya supaya lebih jelas ada di mana sapinya,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pengelolaan teknis bantuan berada di bawah tanggung jawab kelompok tani penerima program.
Meski demikian, polemik di tengah masyarakat terkait dugaan penebusan jutaan rupiah serta ketidakjelasan jumlah sapi masih menjadi perhatian publik.
Hingga kini, redaksi masih berupaya menghubungi ketua Poktan guna mendapatkan penjelasan lebih rinci terkait jumlah awal bantuan, mekanisme distribusi, serta keberadaan sapi yang belum diketahui secara pasti. Namun belum mendapat respon dari ketua Poktan Bina Rakyat Desa Karang Duwak.@Muttakin
![]()
