Iklan Rokok

23 Juni 2026

Metrosoeryanews

Aktual & Terpeecaya

Irfan Macan Utara dan Hakikat Kepemimpinan

Oplus_131072

Surabaya|metrosoeryanews.net – Dalam pandangan Irfan Macan Utara, hakikat kepemimpinan bukanlah tentang berdiri paling tinggi di antara manusia, melainkan tentang seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama. Ia meyakini bahwa seorang pemimpin sejati harus seperti pohon yang semakin berbuah semakin merunduk, dan seperti sungai yang terus mengalir tanpa memilih siapa yang akan menikmati airnya.

Menurut Irfan, kekuasaan hanyalah bayang-bayang yang sementara, sedangkan kebijaksanaan adalah cahaya yang akan tetap dikenang oleh zaman. Karena itu, seorang pemimpin tidak boleh terjebak pada kemegahan jabatan, sebab takhta hanya meninggikan tubuh, tetapi belum tentu meninggikan martabat.

“Pemimpin yang mengejar pujian akan menjadi tawanan manusia, sedangkan pemimpin yang mengejar kebenaran akan menjadi pelayan bagi nuraninya,” ujar Irfan Macan Utara.

Ia berpandangan bahwa pemimpin sejati tidak dibentuk oleh tepuk tangan, melainkan ditempa oleh kesunyian, ujian, dan keberanian memikul beban yang enggan dipikul orang lain. Sebab, menurutnya, emas diuji dengan api, sementara seorang pemimpin diuji dengan kekuasaan.

Bagi Irfan, kepemimpinan adalah seni mengalahkan diri sendiri sebelum berusaha mengalahkan orang lain. Sebab, musuh terbesar seorang pemimpin bukanlah lawan yang berada di luar, melainkan nafsu kesombongan yang bersemayam di dalam dirinya. Ketika ego menjadi raja, maka keadilan akan menjadi budak.

Ia juga menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak seharusnya berlomba untuk ditakuti, melainkan berlomba untuk dipercaya. Karena rasa takut hanya melahirkan kepatuhan sementara, sedangkan kepercayaan akan melahirkan kesetiaan yang abadi.

“Dalam hutan, macan tidak perlu mengumumkan dirinya sebagai raja. Kehadirannya sudah cukup untuk membuat keseimbangan terjaga. Demikian pula seorang pemimpin, kehormatannya lahir dari keteladanan, bukan dari gelar dan pujian,” kata Irfan.

Menurut Irfan Macan Utara, pemimpin sejati adalah mereka yang sanggup menjadi pelita di tengah gelap, menjadi jembatan di tengah perbedaan, dan menjadi perisai bagi mereka yang lemah. Sebab pada akhirnya, sejarah tidak mengingat siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang paling banyak memberi makna bagi kehidupan manusia.

“Takhta akan lapuk dimakan waktu, nama dapat hilang ditelan sejarah, tetapi kebajikan akan tetap hidup dalam ingatan manusia. Karena sejatinya, pemimpin besar bukanlah mereka yang meninggalkan ketakutan, melainkan mereka yang meninggalkan peradaban.” pungkasnya.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *