DITANYA KANS TIKET PARTAI UNTUK MAJU PILWALI KOTA SURABAYA, LIA : OPO JARE
Surabaya – MetroSoerya.Net – Genderang perang Pilwali memang belum ditabuh, namun gaungnya sudah terdengar di seantero sudut sudut Kota Surabaya. Ya karena memang pilwali Kota Surabaya masih satu tahun lebih, tapi pemberitaan tentang siapa pengganti Tri Rismaharini selalu hangat diperbincangkan.
Bahkan nama yang muncul dalam bursa pun semakin banyak. Meskipun di satu sisi banyak pihak meyakini semua nama memiliki peluang yang sama untuk memenangkan kursi Surabaya satu pada September 2020 mendatang. Sebut saja Jamhadi ketua Kadin Kota Surabaya.
Namun diantara nama nama yang muncul yang semakin ramai menjadi perbincangan publik ialah Lia Istifhama. Karena memang sebagaian warga Kota Surabaya masih menghendaki pemimpin perempuan yang paham kebutuhan dasar setiap keluarga. Sosok aktivis perempuan dan dosen tersebut selalu trending di sosial media. Ibu dua anak yang selalu mengelak soal ambisinya meraih kursi Surabaya satu, selalu menyebut dirinya sedang berproses dan menjalani apa yang sedang dihadapinya.
Saat ditanya peluangnya mendapatkan rekomendasi dari partai pengusung, Lia terlihat santai sambil tersenyum mengatakan, “ Saya orangnya santai aja mas, tidak usah mekso, kalau kata orang Surabaya. Opo jare seng ngecat lombok, karena manusia hanya bisa berikhtiar, tapi semua kembali pada kehendak Allah SWT. Yang jelas saya menjalani apa yang bisa saya lakukan saat ini. Kalau ada yang bilang saya ini Cawali bonek, ya Monggo. Gapapa. Saya kan memang Bonek Suroboyo”, jelasnya tersenyum.
Ditanya lebih lanjut soal Nawa Tirta yang dicetusnya, Lia menjelaskan keoptimisannya. “Jadi gini, nawa Tirta itu muncul tiba tiba karena ada relawan nanya, mbak Lia punya nawa apa ? Alhamdulillah, dalam waktu singkat saya nemu jawabannya. Yaitu nawa Tirta. Pikiran saya saat itu, harus ada suatu pokok pikiran yang menandakan program berkesinambungan, kontinyu. Nah, air itu kan terus mengalir. harapan saya, tentu yang mengalir adalah kebaikan. Dan kok kebetulan , Surabaya ini pertautan dengan sungai besar, yaitu sungai Brantas dan kali mas. Terlebih, Bu Risma kan identik dengan taman, nah tumbuhan kalau mau terus hidup, kan pasti butuh air “, pungkas aktivis Lembaga Perlindungan Anak Bina An’Nisa ini. (RED)

