Tidak Benar Ada Pembatasan Hari Rawat Peserta JKN-KIS
(Metrosoerya.net) Mojokerto – Suriati (62) merupakan salah satu peserta JKN KIS yang telah terdaftar sejak tahun 2017 lalu berbagi kisah tentang pengalamannya menggunakan JKN KIS. Terdaftar sebagai peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) kelas 2 dengan faskes tingkat pertama Puskesmas Dlanggu.
Ditemui di kediamannya (25/9), wanita paruh baya ini menceritakan bahwa sejak 2016 telah di diagnosa oleh dokter dengan penyakit syaraf dan diabetes. Penyakit tersebut ia dapatkan karena pola hidup yang kurang sehat dan keturunan dari orang tuanya.
“Desember 2018 saya pernah rawat inap selama sepuluh hari karena penyakit diabetes di RSI Sakinah. Pelayanan kamar yang saya dapatkan sesuai dengan kelas saya, yaitu kelas 2. Dokter dan perawatnya ramah, cepat tanggap ketika saya butuhkan. Tidak seperti isu-isu yang beredar yang mengatakan bahwa pelayanannya buruk dan rawat inap hanya dibatasi 3 hari saja kemudian dipaksa pulang,” katanya.
Masih menurut Suriati, sebelum terdaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan, ia harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk berobat di puskesmas maupun rumah sakit untuk satu kali kontrol. Apalagi dengan kondisinya yang sudah ditinggal suami karena meninggal beberapa tahun silam. Ia mengaku senang karena sekarang bisa berobat dengan menggunakan kartu JKN KIS tanpa harus mengeluarkan biaya lagi, sebab semuanya sudah ditanggung oleh JKN KIS.
“Awalnya saya sempat takut untuk mendaftar di BPJS Kesehatan karena isu yang mengatakan bahwa menggunakan JKN KIS pelayanannya rumit dan dipersulit. Tapi saya mencoba memberanikan diri untuk mendaftar dan setelah mendaftar pelayanannya bagus tidak di beda-bedakan ataupun dipersulit oleh fasilitas kesehatan. Kartu JKN KIS saya rusak lepas seperti ini juga masih dilayani dengan baik di Puskesmas Dlanggu dan RS Sakinah. Yang terpenting kita harus sesuai prosedur,” ungkapnya.
Dengan wajah yang ceria dan semangat ibu Suriati mengutarakan harapannya.
“Harapan saya program JKN KIS ini tetap berlanjut dan berkembang karena ini adalah program dengan prinsip gotong royong. Yang tidak sakit membantu yang sakit atau yang mampu membantu yang tidak mampu. Semoga semua masyarakat bersedia mendaftar sebagai peserta JKN KIS hitung-hitung untuk menambah amal ibadah kita. Program JKN KIS sangatlah dibutuhkan khususnya rakyat kecil seperti saya,” tambahnya. (Rtyn Prima)

