KOPI ARABIKA Urat Nadi Perekonomian Masyarakat Dataran Tinggi.
Karyadi Kadis Perkebunan Jatim
Surabaya-Metrosoerya.net. Jenis kopi yang banyak dibudidayakan ada 2, yaitu Kopi Arabika dan Kopi Robusta.
Kopi arabika, Tajuk kecil, ramping, daun kecil, tidak tahan penyakit karat daun. Menyerbuk sendiri, lebih baik ditanam di lahan tinggi, antara > 800 M — 1.600 M dari permukaan laut. Harga kopi arabika dinilai lebih mahal 2- 2,5 kali dibanding kopi robusta. Komponen citarasa yang diambil adalah aroma.
Varietas anjuran : S 795; Andungsari I; Sigarar Utang; Andungsari 2K; Gayo I; Gayo 2; dan Komasti.
Kopi robusta, tajuk besar, lebar, daun besar, lebar kaku. Tahan penyakit karat daun dan sifat menyerbuk silang. Lebih baik ditanam di ketinggian <800 M. Memiliki body (kekentalan) lebih kuat. Harga dinilai lebih murah.
Prospek
International Coffee Organitation (ICO), memprediksikan, bahwa pada tahun 2020 akan terjadi defisit kopi dunia sebanyak 0,42 juta ton. Mengapa?. Karena, konsumsi kopi dunia pada tahun 2020 akan mencapai 9,96 juta ton, sementara produksi pada tahun 2017 sebesar 9,54 juta ton dan diprediksi stagnan pada angka tersebut hingga tahun 2020.
Maknanya, kedepan peluang bisnis kopi akan tetap cerah serta memiliki prospek yang bagus dan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, selaku institusi yang memiliki kewenangan pengembangan kopi, menangkap signal tersebut dengan me-launching sejumlah program yang langsung bersentuhan dengan petani, sebagai subyek pembangunan perkopian.
Menjaga eksistensi kopi arabika wajib bagi Jawa Timur, karena berdasar sejarah kopi nasional, ketika semua tanaman kopi di Indonesia tengah sekarat akibat serangan penyakit karat daun Hemeleia vastatrix di tahun 1878, hanya kebun-kebun kopi Jawa Timur, tepatnya di dataran tinggi Ijen-lah yang lolos dari kehancuran.
Dari kebun Belawan, Kalisat Jampit, Pancur dan Kayumas inilah wajah perkopian arabika nasional pernah diselamatkan. Sampai saat ini pun kebun di kawasan Ijen Raung masih terawat baik, sehingga mampu menghasilkan kopi-kopi arabika specialty yang mendunia.
Potensi
Total areal kopi arabika Jawa Timur seluas 28.665 ha dengan produksi 13.650 ha. Areal kopi arabika rakyat pada tahun 2018 seluas 21.289 hektar, dengan produksi 8.105 ton. Sedangkan areal kopi arabika perkebunan besar seluas 7.376 Ha, terdiri dari PTPN 7.172 Ha dan PBS 204 Ha, dengan produksi 5.545 ton, terdiri dari PTPN 5.403 ton dan PBS 142 ton.
Kopi arabika merupakan komoditi bernilai ekonomi tinggi, tumbuh sangat spesifik pada ketinggian diatas 1.000 M dpl. Tidak banyak pilihan jenis budidaya pada kondisi lahan tersebut, kalaupun ada komoditi lain yang memiliki ekonomi tinggi, namun tidak ramah dengan konservasi tanah. Kopi arabika memiliki keduanya, bernilai tinggi dan memiliki fungsi konservasi. Tidak banyak kecamatan wilayahnya berada di kawasan dataran tinggi dan di setiap kecamatan mungkin hanya beberapa desa saja. Sebagai gambaran, di lereng Ijen Raung kecamatan poptensial hanya Kecamatan Sumberwringin di Bondowoso dan Arjasa di Situbondo. Di lereng Argopuro ada Kecamatan Panti di Jember, Kecamatan Tiris di Probolinggo; Kawasan Bro Tengger Semeru (BTS) Kecamatan Sumber di Probolinggo, Senduro di Lumajang, Jabung, Tirtoyudo di Malang, Puspo dan Tutur di Pasuruan. Itulah gambaran kawasan yang cocok untuk kopi arabika di Jawa Timur dan pada kawasan tersebut, urat nadi perekonomian masyarakatnya banyak disumbang dari kopi arabika.
Kondisi Perkopian Arabika Jatim
Selama 6 tahun terakhir (2013 — 2018), areal kopi Jawa Timur tumbuh rata-rata 0,81 %, terutama dari kopi arabika karena areal robusta relatif stagnan. Sementara pertmbuhan produksi justru lebih tinggi mencapai rata-rata 3,20 % per tahun, hal tersebut menunjukan adanya peningkatan produktivitas.
Sejatinya pertumbuhan areal, terpicu dengan adanya program perluasan kopi arabika yang dibiayai dana APBD I seluas rata-rata 2.000 ha/tahun.
Pasar kopi arabika sangat baik, petani kopi arabika sudah terkoneksi dengan eksportir, bisa bermitra atau sekedar hubungan pasar. Kira-kira 10 tahun yang lalu kopi arabika rakyat harganya masih rendah, tidak sampai Rp20.000,-/kg biji kering, karena mutunya masih asalan, akibat dari petik campuran hijau kuning merah di petik jadi satu dan diolah secara tradisional. Kemudian ada fasilitasi dari Dinas Perkebunan alat olah basah, dimulailah olah basah, mutu mulai meningkat, tetapi masih dijual dalam bentuk HS basah harganya Rp27.000,-/kg.
Selanjutnya fasilitasi lebih ditingkatkan dengan huller, maka petani bisa jual biji ose kering harganya bisa mencapai lebih Rp 60.000,-/kg.
Saat ini perkopian arabika di Jawa Timur selangkah lebih maju lagi. Usaha pengolahan produk sekunder menjadi roasted dan powder lebih semarak di berbagai kawasan, sebut saja di Kayumas Siitubondo, Sumberwringin Bondowoso, Panti Jember, Tiris Probolinggo, Jabung Malang, Prigen Pasuruan, akan ditemukan beragam produk kopi bubuk kemasan yang di pasarkan di berbagai daerah.
Program Prioritas
Program prioritas pada komoditi kopi arabika di Jawa Timur pada tataran on farm adalah pengembangan atau perluasan areal di dataran tinggi pada kawasan Ijen-Raung; Argopuro; BTS; Arjuno; Wilis dan Lawu serta peningkatan produktivitas melalui intensifikasi. Sedangkan pada tataran off farm untuk penanganan panen dan pasca panen adalah peningkatan mutu produk primer melalui petik merah dan pengolahan basah. Sementara untuk pengolahan sekunder terus diupayakan pengembangan unit pengolahan kopi roasted dan powder oleh kelompoktani atau gapoktan dengan kemasan yang menarik.
Fasliltasi
Pemeritah Provinsi Jawa Timur memang terus mendorong tumbuh dan berkembangnya budidaya kopi arabika mulai on farm hingga off farm dan pemasaran. Pada tataran on farm diberikan fasilitasi hibah bibit, khususnya sejak tahun 2011 s/d 2017 seluas ± 2.000 ha/tahun atau ± 2 juta batang bibit/tahun. Sejak tahun 2018 fasilitasi lebih difokuskan pada bantuan peralatan, baik peralatan pasca panen, seperti alat olah basah (pulper, washer, huller) maupun pengolahan produk sekunder (roaster, grinder, packaging) melalui hibah dan fasilitasi kredit Dana Bergulir dengan bunga murah. Untuk membantu pemasaran, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengikutsertakan kelompoktani kopi arabika untuk mengikuti pameran di berbagai event di provinsi maupun nasional. (Red)

