Nasionalisme Religius Upaya Meneguhkan Persatuan Menuju Surabaya Ceria
Surabaya Metro Soerya. Net – Tak kurang dari beberapa komunitas relawan yang menamakan dirinya Suroboyo Ceria, Sahabat Khofifah Indar Parawansa (KIP), Forum Indonesia Bersatu (FIB), Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GRASI), Suroboyo Berlian, Suroboyo Mulia Sejahtera, Forum Keluarga Madura, Paguyuban Pedagang Tradisional Surabaya (PPTS), Serikat Pedagang Kaki Lima (SPEKAL), Opsi For Lia Sby, Relawan AlMaTura, Suroboyo Juara, Secangkir Kopi September Ceria (SKSC), Komunitas Milenia Peduli Indonesia (KOMPI), Siap menyatukan visi untuk mencari pengganti Tri Rismahartini memimpin Kota Surabaya pada periode mendatang. Walaupun pilwali baru akan dimulai pada september 2020, tak membuat surut para relawan untuk mencari figur Cawali/Cawawali dan menjalin komunikasi ke konstituen maupun antar partai politik.

Meskipun Banyak figur yang bermunculan, namun yang cukup menyita perhatian publik adalah kader Millenial yang dipandang pantas menduduki balai kota yang akan datang. Diantara kader milenia yang muncul diantaranya Lia Istifhama, Sukma Sahadewa, Dedy Rahman, Firman Syah Ali, Edward Dewarucci, dan tentunya masih ada figur lainnya yang dianggap mewakili generasi Millenial. Memang tak bisa dipungkiri sosok Tri Rismaharini yang dikenal sarat prestasi yang sudah tidak bisa mencalonkan diri lagi, masih membuat publik menginginkan seorang kandidat bergender perempuan. Sebut saja Lia Istifhama, aktivis yang dikenal dengan sebutan Ning Ceria yang sedari awal namanya muncul dipermukaan atas desakan para relawan tersebut namanya selalu menghiasi media cetak, elektronik maupun media sosial dan menjadi tranding topik untuk diperbincangkan.
Ning Lia Tokoh mudah aktivis perempuan Alumni Unair, IAIN Sunan Ampel dan STAI Taruna yang namanya mulai moncer dengan latar belakang pendidik (dosen) dan pengurus Fatayat NU Jatim itu bahkan sudah beberapa kali selalu kualahan memenuhi undangan dari berbagai tokoh masyarakat diperkampungan sudut kota surabaya. Meskipun hanya sekedar didaulat menyampaikan gagasan Nawa Tirta yang sedari awal menjadi cita-citanya untuk memajukan kota surabaya. Kendati beberapa daerah yang dikunjungi tersebut merupakan kandang banteng, sebut saja Kec. Simokerto, Tambak Sari, Bulak, Tegalsari, Pakal, Gubeng, Wonocolo yang sejak dulu menjadi lumbung suara PDIP tak membuat surut untuk didatangi dan di sapa. Yang seolah warganya menyatu dalam satu tekad ingin surabaya kelak dipimpin oleh kader milenia perpaduan nasionalis religius.
Hal ini seakan senada dengan apa yang disampaikan oleh KH. RPA Mujahid, tokoh senior Nahdlatul Ulama yang berobsesi ke depan diharapkan surabaya dapat dipimpin oleh kader banteng (Nasionalis) yang bergandengan dengan kader hijau (NU) untuk memimpin Kota Surabaya.
” Surabaya harus dibangun dengan kekuatan antara nasionalis religius. Karena pembangunan di surabaya belum dikatakan prima dan optimal mana kala kader religiusnya belum ditampilkan. Seperti yang saat ini terjadi pada kepemimpinan nasional antara pak Jokowi dengan KH. Ma’ruf Amin dan Bung Karno dengan Bung Hatta yang konsisten dengan dwitunggalnya. Karena itu bisa saja Wisnu Sakti Buana kader banteng (Nasionalis) bisa bergandengan dengan Ning Lia (Religius / NU) atau kader PDIP lainnya yang direkomendasi Bu Megawati”, imbaunya. (Red)