Ribuan Warga Desa Sawotratap Menyaksikan Pagelaran Bantengan
Sidoarjo, Metro Soerya.net- Ribuan warga Desa Sawotratap Kecamatan Gedangan Kabupaten Sidoarjo datang dan menyaksikan pagelaran seni bantengan yang diselenggarakan oleh Pemerintahan Desa Sawotratap (Pemdes) dalam rangka bersih desa, Minggu, (24/9/2018)
Antusias warga sangat tinggi untuk menyaksikan seni bantengan, terbukti ribuan warga datang dan menyaksikan seni tersebut yang digelar di halaman balai desa. Seni bantengan merupakan rangkaian acara bersih desa yang ditampilkan oleh warga lokal desa, sekaligus mengangkat seni budaya lokal. Pemdes sangat mengaprisiasi seni lokal ini, hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Desa Sawotratap.
“Ternyata warga Sawotratap mempunyai seni yaitu paguyuban bantengan, maka dari itu, kita gali potensi seni budaya warga lokal, kita beri kesempatan dan tampilkan untuk menghibur masyarakat. Kalau warga lokal ada yang punya seni bantengan kenapa tidak kita tampilkan?” kata Sanuri.
Puncak dari kegiatan acara bersih desa tersebut yaitu pagelaran wayang kulit semalam suntuk 3 Oktober dan yang terakhir adalah Majelis Dzikir Al- Khidmah yang dihadiri oleh mustamiin dan mustamiad dari luar Kota Sidoarjo pada tanggal 6 Oktober 2018 yang akan datang.
Sebelum pagelaran dimulai, kepala desa beserta pamong dan seluruh anggota bantengan serta warga berkeliling kampung untuk mempromosikan seni bantengan kepada warga. Dan ini bisa mengangkat nama baik desa sekaligus mempererat hubungan dan tali silaturahmi melalui seni bantengan.
Ketua paguyuban bantengan “Rogo Sukmo” Aryo Suwito mengatakan, dirinya sangat senang bisa tampil dan menghibur masyarakat. Melalui seni, bisa terjalin komunikasi dan mempererat tali silaturahmi antar warga.
“Ini adalah bentuk dan wujud partisipasi kepada desa, sebagai warga desa, melalui kesenian, kami ikut melestarikan kebudayaan dan seni sekaligus mendukung sepenuhnya terlaksananya bersih desa ini,” katanya.
Kepala desa mengharapkan, melalui seni bisa dijalin kerukunan, kebersamaan karena seni tidak memandang agama, ras dan suku.
“Dengan adanya moment seperti ini, kita bangun kebersamaan. Setiap kegiatan yang ada desa, warga harus merasa memiliki, sehingga desa adalah milik kita bersama”. Pungkas Sanuri. (yun)

